Sejak tiga hari lalu, handphone-ku tak berhenti berdering. Nyaris semuanya menanyakan hal yang sama. ”Apa yang terjadi di Nabire dan Painiai? Seberapa parah kolera telah mewabah di sana? Benarkah korban tewas sudah 79 orang?”
Bagian dari pekerjaanku, tentu saja. Menjawab kegelisahan mereka. Meski aku sendiri masih menangkap samar-samar tentang apa yang sebenarnya menjangkiti pulau paling timur itu. Yang kadang tak tersentuh media. Nabire dan Painiai adalah cikal bakal turisme baru Papua. Pemerintah setempat menutup rapat-rapat kasus kolera ini dengan mengatakan bahwa itu hanyalah wabah diare biasa. Takut tak ada wisatawan berkantung tebal yang sudi mampir kesana lagi jika tahu bahwa vibrio cholera diam-diam menggerogoti penduduknya.
Lalu sebuah telpon penting menghampiri.
“Kalau aku menugaskanmu untuk melakukan assesment ke Nabire, kau siap berangkat malam ini juga? Ada Fokker menunggu di Halim.”
Tentu saja aku harus siap. Tak ada pilihan lain. Meski pada akhirnya, ada pekerjaan lebih penting menungguku di Jakarta, dan aku hanya memantau perkembangan Nabire melalui telepon. Kolegaku, yang tentu saja memiliki semangat jauh lebih besar dibandingkan diriku, berjanji akan mengontakku untuk melaporkan perkembangan setiap saat.
Ketika aku bercerita dengan seseorang tentang hal itu, aku jadi teringat sebuah novel karangan Gabriel Garcia Marquez, yang dulu menjadi bacaan wajibku ketika masih semester 3. Judulnya : Love in the time of cholera. Filmnya sendiri, kutonton lebih dari 2 kali baru-baru ini.
Ada satu bagian yang paling kusuka. Yaitu adegan ketika Fiorentino Ariza datang menemui wanita yang dicintainya sembari berkata, ”Fermina Daza, aku telah menunggumu selama 51 tahun, 279 hari, 56 jam 30 menit dengan cinta yang tetap sama.”
Sesaat setelah suami Fermina meninggal karena serangan jantung.
Lima puluh tahun lalu, cinta mereka bersemi ketika kolera mewabah di salah satu pedesaan di Columbia. Dan baru setengah abad kemudian mereka bersama lagi.
Meski hanya sebuah novel, cerita itu memunculkan sebuah pertanyaan sederhana di benakku.
How long will you wait for your beloved one?
Tiap orang akan menjawab berbeda-beda. Dan sedihnya, malam ini aku masih menunggu secuil kabar, di tengah gegap gempita kolera yang mewabah di Papua nun jauh disana....
waoooo...kayak apa tuh ya anak-anak bangsa di sana? kalo kesana, ceritain ya non...plus liatin beberapa foto kondisi disana juga ya...:)
ReplyDelete