Hari Minggu malam, entah kenapa, segala kepenatan tiba-tiba menghampiri.
Gosh! I need someone to talk to!
Then, it was just like an answer of my prayer, handphone-ku berdering. Seseorang menelpon dari nomor yang kukenal.
Awalnya hanya bertanya kabar, bertanya bagaimana jakarta, dan bagaimana hari-hari yang kulewati disini. Tapi setelah itu, aku tak bisa membendung diri untuk tidak bercerita tentang sesuatu yang menggelayutiku .
Ia tertawa. Seperti biasanya setiapkali aku bercerita tentang sepi ini. Tapi justru itulah yang kubutuhkan. Tawa. Bukan belas kasihan. Sebab belas kasihan hanya akan semakin melemahkan hati. Dan aku tak ingin diperlemah. Karena situasi ini sudah cukup membuatku lemah.
Kami berbicara sampai hampir tengah malam. Dan kuakui, perasaanku menjadi lebih ringan. Ia menawarkan beragam ide untukku. Mulai dari memelihara ikan hias, menanam tunas dan melihat pertumbuhannya setiap pagi, naik ke atas genteng, menyanyi bersama Paul Mc Cartney, hingga bolos kerja untuk pergi berbelanja.
Akhirnya, selama 1 minggu ini, aku memang melakukan apa yang ia sarankan.
Senin malam aku berkeliling Pasar Festival. Selasa Malam, bersama Mahendra nonton film di Setiabudi, berjalan-jalan di seputaran Taman Menteng, menonton futsal, mendengarkan seseorang bermain biola, dan berbincang sambil makan soto lamongan. Rabu Malam, bersama Ambar dan Suci, pergi ke Plaza Semanggi, makan di A&W, dan ngobrol habis-habisan mengenai 2 tema penting dalam hidup kami, yaitu si boss dan pasangan hidup.
Blog ini spesial buat kamu, Mas Kendal. Seperti yang pernah kujanjikan. Sebuah tulisan.
Bring your silly laugh into my life yach...
Ups..woow...what a kind of honor...woow...
ReplyDeleteBring your silly laugh into my life too yach...ha15..
christ you know its ain't easy ;-)