Wednesday, April 9, 2008

I cried because...

Akhirnya, setelah hari-hari panjang yang berlalu, aku mendengarkan kembali Until the Last Moment karya Yanni. Erotisme yang indah dan menghantui tiba-tiba melimpahi diriku dengan emosi. Aku mencoba menguatkan hati untuk tidak menangis, tapi kemudian seseorang berkata padaku bahwa tak apa-apa menangis, sebab air mata itu melembutkan perasaan. Ia bersifat menyembuhkan. Jadi, kukeluarkan semuanya tadi malam.

Aku menangis karena beberapa alasan, karena banyak hal.

Aku menangis karena musik itu menghadirkan kembali serangkaian kenangan, ketika pada saat ini aku tengah mencoba meninggalkan masa lalu melalui sebuah proses yang pedih.

Aku menangis karena aku menyadari bahwa ternyata tak mudah untuk mencabut sesuatu yang akarnya terlanjur tertanam begitu dalam.

Aku menangis karena menyadari bahwa ternyata aku masih selalu bergerak antara rasa ingin meninggalkan dan rasa rindu untuk kembali.

Aku menangis karena di balik perih yang melintas ini, aku merasakan kemenangan kecil tentang sebuah nilai yang kuyakin benar dan harus kulakukan, meski harga yang kubayar begitu mahal.

Aku menangis karena aku tahu bahwa aku tak akan pernah membuatnya menangis lagi.

Tapi, lebih dari semua alasan itu, aku menangis karena itu membuatku tetap menjadi seorang manusia.

Dan hanya mereka yang mengenal perih, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang bernama manusia.

Thursday, April 3, 2008

Identitas

Sudah lima hari terakhir ini kursi di sebelahku terisi. Seorang partner kerja baru. Laki-laki, 5 tahun diatasku, dan menjadi bagian dari sistem informasi unit kami, tetapi mengkhususkan diri untuk urusan website, pemrograman dan sejenisnya.

Ada yang aneh rasanya bekerja berdua dalam satu bidang yang sama. Semua yang sebelumnya kumiliki sendiri, kini harus kubagi dengan orang lain. Terasa lebih ringan memang. Apalagi dia cukup berpengalaman dan helpfull. Tetapi tetap saja aku merasa canggung. Segala sesuatu kini harus kami bicarakan berdua. Setiap keputusan yang kuambil, harus terlebih dahulu sepengetahuan dia. Orang tak lagi memandangku sebagai sebuah entitas yang utuh. Di sebelahku selalu ada Ricky. Di bawah namaku, selalu ada nama Ricky.

Mengapa perasaan ini muncul? Aku mulai bertanya-tanya. Dan ternyata jawabannya sederhana. Ini hanyalah soal identitas.

Identitas itu ibarat garmen. Ia dikenakan di atas diri kita yang bugil. Dan ketika kita memakainya, kita menjadi enggan untuk melepaskannya. Kita takut menjadi bugil lagi. Kita ingin dilihat dengan pakaian terbaik oleh semua orang. Dan terkadang, kita memakainya secara ketat. Takut jika orang lain akan merenggutnya dari kita.

Jawaban itu cukup melegakan bagiku. Cukup memberiku pencerahan. Dan sebelum terlambat, menyadarkanku bahwa memang semua itu hanyalah garmen yang masing-masing kita kenakan. Aku menyadari bahwa aku mulai memakainya secara ketat. Seolah hanya pakaian itulah yang kumiliki saat ini, dan mengabaikan pakaian lainnya.

Kata James Baldwin, ”Aku” hanyalah pemberi tanda tentang suatu kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. Dan tak seorangpun bisa merumuskannya secara pasti. Ia menyebutnya sebagai ’The Naked Self’ atau diri yang bugil. Untuk bisa merabanya sewaktu-waktu, lebih baik kita memakai identitas kita secara longgar, begitu katanya. Baldwin benar. Aku juga ingin memakai identitasku secara longgar.

Aku ingin menjadi manusia yang lega dengan diriku sendiri di dunia ini.

Wednesday, April 2, 2008

Kendal

Hari Minggu malam, entah kenapa, segala kepenatan tiba-tiba menghampiri.

Gosh! I need someone to talk to!

Then, it was just like an answer of my prayer, handphone-ku berdering. Seseorang menelpon dari nomor yang kukenal.

Awalnya hanya bertanya kabar, bertanya bagaimana jakarta, dan bagaimana hari-hari yang kulewati disini. Tapi setelah itu, aku tak bisa membendung diri untuk tidak bercerita tentang sesuatu yang menggelayutiku .

Ia tertawa. Seperti biasanya setiapkali aku bercerita tentang sepi ini. Tapi justru itulah yang kubutuhkan. Tawa. Bukan belas kasihan. Sebab belas kasihan hanya akan semakin melemahkan hati. Dan aku tak ingin diperlemah. Karena situasi ini sudah cukup membuatku lemah.

Kami berbicara sampai hampir tengah malam. Dan kuakui, perasaanku menjadi lebih ringan. Ia menawarkan beragam ide untukku. Mulai dari memelihara ikan hias, menanam tunas dan melihat pertumbuhannya setiap pagi, naik ke atas genteng, menyanyi bersama Paul Mc Cartney, hingga bolos kerja untuk pergi berbelanja.

Akhirnya, selama 1 minggu ini, aku memang melakukan apa yang ia sarankan.

Senin malam aku berkeliling Pasar Festival. Selasa Malam, bersama Mahendra nonton film di Setiabudi, berjalan-jalan di seputaran Taman Menteng, menonton futsal, mendengarkan seseorang bermain biola, dan berbincang sambil makan soto lamongan. Rabu Malam, bersama Ambar dan Suci, pergi ke Plaza Semanggi, makan di A&W, dan ngobrol habis-habisan mengenai 2 tema penting dalam hidup kami, yaitu si boss dan pasangan hidup.

Blog ini spesial buat kamu, Mas Kendal. Seperti yang pernah kujanjikan. Sebuah tulisan.

Bring your silly laugh into my life yach...