Akhirnya, setelah hari-hari panjang yang berlalu, aku mendengarkan kembali Until the Last Moment karya Yanni. Erotisme yang indah dan menghantui tiba-tiba melimpahi diriku dengan emosi. Aku mencoba menguatkan hati untuk tidak menangis, tapi kemudian seseorang berkata padaku bahwa tak apa-apa menangis, sebab air mata itu melembutkan perasaan. Ia bersifat menyembuhkan. Jadi, kukeluarkan semuanya tadi malam.
Aku menangis karena beberapa alasan, karena banyak hal.
Aku menangis karena musik itu menghadirkan kembali serangkaian kenangan, ketika pada saat ini aku tengah mencoba meninggalkan masa lalu melalui sebuah proses yang pedih.
Aku menangis karena aku menyadari bahwa ternyata tak mudah untuk mencabut sesuatu yang akarnya terlanjur tertanam begitu dalam.
Aku menangis karena menyadari bahwa ternyata aku masih selalu bergerak antara rasa ingin meninggalkan dan rasa rindu untuk kembali.
Aku menangis karena di balik perih yang melintas ini, aku merasakan kemenangan kecil tentang sebuah nilai yang kuyakin benar dan harus kulakukan, meski harga yang kubayar begitu mahal.
Aku menangis karena aku tahu bahwa aku tak akan pernah membuatnya menangis lagi.
Tapi, lebih dari semua alasan itu, aku menangis karena itu membuatku tetap menjadi seorang manusia.
Dan hanya mereka yang mengenal perih, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang bernama manusia.