Di pojok folder itu teronggok draft awal novellete keduaku yang belum selesai, tapi telah kuberi judul. Tumben. Biasanya, judul-judul tulisanku selalu muncul belakangan. Seolah menegaskan bahwa menulis adalah sebuah perjalanan, bukan patokan target. Jika aku menuliskan judul terlebih dahulu, rasanya seperti hanya mencomot ide-ide dan menyusun kalimat-kalimat yang cocok dengan judul tersebut. Terasa jauh berbeda dibandingkan ketika aku membiarkan saja pikiranku mengembara. Menuliskan apa saja.Aku pernah bermaksud menulis tentang kehidupan di rumah jompo (gara-gara mata kuliah Psiko Gerontologi yang berkutat dengan permasalahan lansia). Tapi kemudian, ketika cerpen itu selesai, aku justru bercerita banyak mengenai seorang bajingan tua yang kaya raya, menceraikan istrinya dan bercinta dengan babu-babunya setiap malam. Mengenakan pakaian Cossack dan kalung manik-manik besar, menghisap cerutu tanpa henti, mata sedikit rabun tapi nyalang, dan lebih mirip penjelmaan Rasputin. Lalu pada akhirnya, tulisan itu kuberi judul Mencintai Neftali. Itulah proses menulis yang kusukai.
Tapi novellete-ku kali ini, sejak awal aku memang ingin sekali menuliskan tentang kupu-kupu. Tak tahu kenapa. Barangkali karena aku masih teringat akan puluhan bros kupu-kupu yang kupasang di tirai kamar apartemenku diNewcastle dulu. Yang membuat mereka tampak hidup setiapkali angin menerobos masuk melewati kisi-kisi jendela yang kubiarkan terbuka. Kupu-kupu dengan sayap yang mengangguk-angguk. Menemani malam-malam yang dingin dan sepi.
Namun dalam kisah ini, kupu-kupu itu bukan milikku. Ia milik Julian. Seorang bocah lelaki berusia 6 tahun yang dibenci Ayahnya sendiri. Yang tergelincir dan jatuh ketika berkuda di pedesaan Gosford. Yang kerap menggambar jantung hati dengan tulisan ’Hore..Hore..Ayah’, namun tak pernah mendapat pujian. Yang menangis haru di malam natal ketika melihat seorang bocah negro kedinginan di luar pagar sambil menenteng dagangan. Yang bertanya seperti ini :
”Ayah, mengapa aku tak boleh membukakan pintu untuk anak itu? Mungkin dia Yesus yang akan menyebarkan kehangatan di dalam rumah kita.”
Yang dijawab seperti ini :
”Jangan bodoh! Yesus bukan kulit hitam. Dan Ia tidak berkeliling untuk menjajakan kaus kaki di malam natal!”
Julian yang kusayang melebihi tokoh-tokoh ceritaku yang lain. Julian yang mengingatkanku pada seraut wajah mungil yang tersenyum polos di dalam bus kota menuju Kampung Rambutan. Tanpa alas kaki. Hanya menggenggam kantung plastik lusuh berisi kepingan receh. Yang berbicara dengan isyarat dari kedua tangannya. Yang membuatku mengerti bahwa jemari ternyata juga mampu bercerita.
Dimana malaikat kecilku malam itu? Yang membuatku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis. Yang membuatku ingin sekali berlari ke arahnya dan memeluknya erat, mengajaknya berkeliling kebun binatang sambil menggenggam es krim, setelah mendandaninya dengan pakaian terbaik.
Tapi jika semua itu toh tak terwujud, aku masih memiliki sesuatu yang lain.
Seribu kupu-kupu yang bisa kuterbangkan untuknya. Yang mungkin akan dibacanya kelak ketika ia dewasa. Semoga....
No comments:
Post a Comment
silahkan dikomentari