Thursday, March 27, 2008

Mi Propia Belleza

Kalau ada yang bertanya padaku, apa hal yang paling ingin kulakukan di akhir pekan ini, aku akan menjawab :

Berdiri di tepi sungai dan berbincang berdua dengan Paulo Coelho sampai pagi.

Sumpah! Rasanya saat-saat sekarang ini aku butuh sosok seperti Coelho, yang menguatkan, sekaligus menenangkan. Sosok yang bisa menghentikan sejenak kelabilan emosiku. Sosok yang bisa mendefinisikan hal-hal yang kuanggap rumit menjadi sebuah metafor sederhana. Sosok yang...Ah, melankolis, tapi tetap realistis.

A river never passes the same place twice. We are always doing things for the first time.

While we move between our source (birth) to our destination (death), the landscape will always be new. We should face these novelties with joy, not with fear – because it is useless to fear what cannot be avoided. A river never stops running.

Itu cuplikan kata-katanya ketika mengawali kalimat pembuka novel terbarunya yang berjudul Like a Flowing River.

Tapi, semudah itukah menjadi seperti sungai yang mengalir? Melupakan hari kemarin dan terus bergerak maju ke depan? Terlebih ketika seluruh kenangan akan masa lalu yang intens itu tiba-tiba berubah menjadi pusaran air yang menghisap. Yang membelit sebelah kaki, ketika disaat yang bersamaan, kaki yang satunya lagi ingin berlari sejauh mungkin.

Kebimbangan : Terlalu sering rasa itu disesali. Tetapi justru itulah deskripsi nasib manusia sebagai makhluk yang dilahirkan oleh sejarah. Spesies yang selalu bergerak dalam pergulatan panjang antara kebebasan untuk mengubah sesuatu di satu pihak dan keterbatasannya yang tak bisa ia atasi di pihak lain. Dan aku termasuk didalamnya.

Lalu aku mulai berfantasi. Mungkin jika acara minum kopi itu benar-benar terwujud, kira-kira akan ada dialog seperti ini (mirip antara dialog Dewi Hutan dengan Danau tempat dimana Narcissus tenggelam).

Coelho : Mengapa kamu menangis?

Saya : Aku menangis karena Narcissus telah pergi.

Coelho : Oh, tak heran kau menangisinya. Dari begitu banyak perempuan di

sekelilingnya, hanya kamulah yang bisa melihat ketampanannya

dari dekat.

Saya : Tapi, apakah Narcissus itu tampan?

Coelho : Siapa lagi yang lebih mengetahuinya dibandingkan kamu?

Di kedua matamulah tiap hari ia berkaca untuk mengagumi ketampanannya.

Lalu aku akan diam selama beberapa saat, sebelum menjawab : Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kusadari bahwa Ia begitu tampan. Aku menangis karena, setiap kali ia menatap mataku, aku melihat, di kedalaman matanya, pantulan kecantikanku sendiri.

My Own Beauty. Mi Propia Belleza.

Hmmm....to be like a flowing river. Aku harus baca buku itu. Harus!

Semoga pengharapanku tak terlalu berlebihan.

No comments:

Post a Comment

silahkan dikomentari