Thursday, March 27, 2008

Ambigu

Jam pulang kantor kemarin adalah saat-saat yang ambigu. Senang karena waktu bekerja telah selesai, sekaligus sedih karena tak ada lagi yang bisa kulakukan jika sudah melangkahkan kaki ke dalam kamar. Keluar lagi rasanya enggan. Tapi terus-terusan di kamar juga bosan. Apalagi ketika i-tunes ku terus memainkan’The Heart of the Matters’ nya India Arie. Pfff..seharusnya itu lagu yang paling kuhindari saat ini. Tapi anehnya, justru aku membiarkan saja lagu itu diputar berulang-ulang. Ikut menggumamkan liriknya, bahkan menghayati sepenuh hati ketika tiba pada bagian refrain-nya.

”I’ve been trying to live without you now..but i miss you sometimes..”

Whatta god-damn song, dude?

Sejenak setelah merebahkan diri di kasur, Aleta menelpon untuk menginap di kost-ku. Ini ambigu yang kedua. Senang karena setidaknya malam itu aku tak sendirian. Ada seseorang yang bisa kuajak bercerita dan berbagi secuil kesibukanku hari itu. Tapi juga sedih, karena cerita-ceritanya tentang Jogja dan juga Bali (yang baru saja dikunjunginya seminggu terakhir) membuatku rindu akan masa-masa itu. Malam itu Ia terheran-heran melihatku masih betah menatap laptop. Menyelesaikan terjemahan, mereview berita bencana alam hari itu, mengecek kelengkapan peta, foto-foto banjir, gempa, sambil mengingat agenda rapat seminggu ke depan, dll.

”Pekerjaan ini benar-benar beda jauh ya dibandingkan yang kamu jalani dulu,” Ia mengomentariku. Lalu membuatku iri dengan bercerita betapa santainya ’bekerja’ di Bali selama seminggu, atau di depan kamera selama setengah jam, atau menjadi dubber dan voice over untuk beberapa halaman dengan kompensasi yang lumayan.

But I’ve chosen my own way, begitu kataku dalam hati. Dan kadang aku memang mengambil pilihan yang jauh lebih sulit, yang tak bisa dipahami orang kebanyakan, tapi pada akhirnya aku masih merasa bahagia.

“Ini bukan aku banget deh,” ia memilah-milah tumpukan kertas di stopmap berlogo PBB itu dan menggeleng-geleng heran.

Well, kita memang tak harus serupa kan? Kalau dulu kita pernah berjalan beriringan di trotoar yang sama, bukan berarti jalan berbelok yang kutempuh saat ini harus menjadi jalanmu juga.

”Tidur ah..besok ada casting dikebon sirih..” Ia menutup percakapan.

India Arie masih mengalun lembut. Dan tanganku masih menari di atas laptop.

"..And my heart is so shattered, but I know it's about forgiveness..Even if you don't love me anymore.."

1 comment:

silahkan dikomentari