Thursday, July 10, 2008

Leningrad

Seorang teman dekat bercerita padaku dengan mata sembab, bahwa lelaki yang diincarnya selama ini ternyata telah menikah. Padahal ia terlanjur jatuh cinta setengah mati. Dan rasanya mustahil untuk pindah ke lain hati. Jadi, yang bisa dilakukannya hanya menyesali diri, menyesali pertemuan yang terlambat ini. Lalu mengunci diri di dalam kamar sembari mendengarkan musik melankolis yang semakin menyayat hati. Duh..cinta.

“Kalo loe jadi gue, apa yang loe lakuin?”

Pertanyaan itu akhirnya ditujukan juga padaku. Sebelum menjawab, aku diam sejenak. Takut kalau jawabanku justru akan semakin membuatnya tersedu-sedu. Akupun memasang tampang bodoh dan polos, dan berkata, “Ya..paling aku cuma bilang, “Shit! He’s married!” trus merencanakan travelling seorang diri. Menjepret setiap gerakan di jalan-jalan yang kulewati dengan kamera pinjaman. Sembari merasakan nikmatnya menjadi lajang dalam arti yang sebenarnya.”

“Travelling kemana?” ia mengejarku lagi.

Aku diam sesaat. Lalu berkata, “Leningrad!”

Ya, aku ingin sekali melihat Leningrad yang indah. Atau bepergian naik kereta melintasi rel terpanjang di Siberia yang dingin dan sunyi. Lalu pulang ke kampung halaman ketika tahun mulai menua, disertai lagu ‘It was a very good year-nya Frank Sinatra.

Lalu ia tertawa terbahak-bahak. Tawa pertama yang kulihat semenjak seminggu terakhir ini. Tawa yang bercampur kata-kata ejekan, yang mengatakan bahwa aku mempunyai imajinasi yang terlalu aktif dan ngawur. Dan terkadang tak masuk akal.

Aku ingin sekali menjelaskan padanya bahwa hal itu mungkin saja kulakukan. Toh, aku pernah ’melarikan diri’ dari derita hati, dengan menyepi selama lebih dari 3 bulan di negeri kangguru. Meski akhirnya toh, aku kembali jua ke sarang. Sebuah tempat yang sejak dulu selalu membuatku merasa ramai sekaligus sunyi.

Jadi, akhirnya kukatakan padanya, masih dengan wajah polos yang sama.

”Karena Leningrad tak sedekat Australia, rasanya aku belum ingin patah hati dalam waktu dekat ini.”

”Mengapa?”

”Tiket pesawat tak murah. Nanti sajalah kalau tabunganku sudah cukup.”

Ia kembali tertawa. Terasa lebih hangat dari sebelumnya. Dan aku melemparnya dengan boneka gajah oleh-oleh dari Thailand, yang dihadiahkan seseorang padaku beberapa waktu lalu.

”Hidup bukan sekedar urusan memiliki atau tidak memiliki..” bisikku bijak. Kali ini, aku tak memasang tampang bodoh. Aku bersungguh-sungguh. Dan ia menatapku lama sekali sebelum mengangguk dan membiarkan tangisnya pecah sekali lagi.

Nasehat itu, barangkali lebih pantas kutujukan untuk diriku sendiri.

Aku tersenyum dalam hati. Kemudian larut menikmati setiap slide lukisan Vincent Van Gogh yang menghiasi layar laptopku. Diiringi suara merdu Don Mc Lean yang seksi. Dan sedikit menyayat hati…

”Starry..starry night...paint your pallete blue and grey...”

Friday, July 4, 2008

Love in the Time of Cholera

Sejak tiga hari lalu, handphone-ku tak berhenti berdering. Nyaris semuanya menanyakan hal yang sama. ”Apa yang terjadi di Nabire dan Painiai? Seberapa parah kolera telah mewabah di sana? Benarkah korban tewas sudah 79 orang?”

Bagian dari pekerjaanku, tentu saja. Menjawab kegelisahan mereka. Meski aku sendiri masih menangkap samar-samar tentang apa yang sebenarnya menjangkiti pulau paling timur itu. Yang kadang tak tersentuh media. Nabire dan Painiai adalah cikal bakal turisme baru Papua. Pemerintah setempat menutup rapat-rapat kasus kolera ini dengan mengatakan bahwa itu hanyalah wabah diare biasa. Takut tak ada wisatawan berkantung tebal yang sudi mampir kesana lagi jika tahu bahwa vibrio cholera diam-diam menggerogoti penduduknya.

Lalu sebuah telpon penting menghampiri.

“Kalau aku menugaskanmu untuk melakukan assesment ke Nabire, kau siap berangkat malam ini juga? Ada Fokker menunggu di Halim.”

Tentu saja aku harus siap. Tak ada pilihan lain. Meski pada akhirnya, ada pekerjaan lebih penting menungguku di Jakarta, dan aku hanya memantau perkembangan Nabire melalui telepon. Kolegaku, yang tentu saja memiliki semangat jauh lebih besar dibandingkan diriku, berjanji akan mengontakku untuk melaporkan perkembangan setiap saat.

Ketika aku bercerita dengan seseorang tentang hal itu, aku jadi teringat sebuah novel karangan Gabriel Garcia Marquez, yang dulu menjadi bacaan wajibku ketika masih semester 3. Judulnya : Love in the time of cholera. Filmnya sendiri, kutonton lebih dari 2 kali baru-baru ini.

Ada satu bagian yang paling kusuka. Yaitu adegan ketika Fiorentino Ariza datang menemui wanita yang dicintainya sembari berkata, ”Fermina Daza, aku telah menunggumu selama 51 tahun, 279 hari, 56 jam 30 menit dengan cinta yang tetap sama.”

Sesaat setelah suami Fermina meninggal karena serangan jantung.

Lima puluh tahun lalu, cinta mereka bersemi ketika kolera mewabah di salah satu pedesaan di Columbia. Dan baru setengah abad kemudian mereka bersama lagi.

Meski hanya sebuah novel, cerita itu memunculkan sebuah pertanyaan sederhana di benakku.

How long will you wait for your beloved one?

Tiap orang akan menjawab berbeda-beda. Dan sedihnya, malam ini aku masih menunggu secuil kabar, di tengah gegap gempita kolera yang mewabah di Papua nun jauh disana....

Wednesday, April 9, 2008

I cried because...

Akhirnya, setelah hari-hari panjang yang berlalu, aku mendengarkan kembali Until the Last Moment karya Yanni. Erotisme yang indah dan menghantui tiba-tiba melimpahi diriku dengan emosi. Aku mencoba menguatkan hati untuk tidak menangis, tapi kemudian seseorang berkata padaku bahwa tak apa-apa menangis, sebab air mata itu melembutkan perasaan. Ia bersifat menyembuhkan. Jadi, kukeluarkan semuanya tadi malam.

Aku menangis karena beberapa alasan, karena banyak hal.

Aku menangis karena musik itu menghadirkan kembali serangkaian kenangan, ketika pada saat ini aku tengah mencoba meninggalkan masa lalu melalui sebuah proses yang pedih.

Aku menangis karena aku menyadari bahwa ternyata tak mudah untuk mencabut sesuatu yang akarnya terlanjur tertanam begitu dalam.

Aku menangis karena menyadari bahwa ternyata aku masih selalu bergerak antara rasa ingin meninggalkan dan rasa rindu untuk kembali.

Aku menangis karena di balik perih yang melintas ini, aku merasakan kemenangan kecil tentang sebuah nilai yang kuyakin benar dan harus kulakukan, meski harga yang kubayar begitu mahal.

Aku menangis karena aku tahu bahwa aku tak akan pernah membuatnya menangis lagi.

Tapi, lebih dari semua alasan itu, aku menangis karena itu membuatku tetap menjadi seorang manusia.

Dan hanya mereka yang mengenal perih, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang bernama manusia.

Thursday, April 3, 2008

Identitas

Sudah lima hari terakhir ini kursi di sebelahku terisi. Seorang partner kerja baru. Laki-laki, 5 tahun diatasku, dan menjadi bagian dari sistem informasi unit kami, tetapi mengkhususkan diri untuk urusan website, pemrograman dan sejenisnya.

Ada yang aneh rasanya bekerja berdua dalam satu bidang yang sama. Semua yang sebelumnya kumiliki sendiri, kini harus kubagi dengan orang lain. Terasa lebih ringan memang. Apalagi dia cukup berpengalaman dan helpfull. Tetapi tetap saja aku merasa canggung. Segala sesuatu kini harus kami bicarakan berdua. Setiap keputusan yang kuambil, harus terlebih dahulu sepengetahuan dia. Orang tak lagi memandangku sebagai sebuah entitas yang utuh. Di sebelahku selalu ada Ricky. Di bawah namaku, selalu ada nama Ricky.

Mengapa perasaan ini muncul? Aku mulai bertanya-tanya. Dan ternyata jawabannya sederhana. Ini hanyalah soal identitas.

Identitas itu ibarat garmen. Ia dikenakan di atas diri kita yang bugil. Dan ketika kita memakainya, kita menjadi enggan untuk melepaskannya. Kita takut menjadi bugil lagi. Kita ingin dilihat dengan pakaian terbaik oleh semua orang. Dan terkadang, kita memakainya secara ketat. Takut jika orang lain akan merenggutnya dari kita.

Jawaban itu cukup melegakan bagiku. Cukup memberiku pencerahan. Dan sebelum terlambat, menyadarkanku bahwa memang semua itu hanyalah garmen yang masing-masing kita kenakan. Aku menyadari bahwa aku mulai memakainya secara ketat. Seolah hanya pakaian itulah yang kumiliki saat ini, dan mengabaikan pakaian lainnya.

Kata James Baldwin, ”Aku” hanyalah pemberi tanda tentang suatu kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. Dan tak seorangpun bisa merumuskannya secara pasti. Ia menyebutnya sebagai ’The Naked Self’ atau diri yang bugil. Untuk bisa merabanya sewaktu-waktu, lebih baik kita memakai identitas kita secara longgar, begitu katanya. Baldwin benar. Aku juga ingin memakai identitasku secara longgar.

Aku ingin menjadi manusia yang lega dengan diriku sendiri di dunia ini.

Wednesday, April 2, 2008

Kendal

Hari Minggu malam, entah kenapa, segala kepenatan tiba-tiba menghampiri.

Gosh! I need someone to talk to!

Then, it was just like an answer of my prayer, handphone-ku berdering. Seseorang menelpon dari nomor yang kukenal.

Awalnya hanya bertanya kabar, bertanya bagaimana jakarta, dan bagaimana hari-hari yang kulewati disini. Tapi setelah itu, aku tak bisa membendung diri untuk tidak bercerita tentang sesuatu yang menggelayutiku .

Ia tertawa. Seperti biasanya setiapkali aku bercerita tentang sepi ini. Tapi justru itulah yang kubutuhkan. Tawa. Bukan belas kasihan. Sebab belas kasihan hanya akan semakin melemahkan hati. Dan aku tak ingin diperlemah. Karena situasi ini sudah cukup membuatku lemah.

Kami berbicara sampai hampir tengah malam. Dan kuakui, perasaanku menjadi lebih ringan. Ia menawarkan beragam ide untukku. Mulai dari memelihara ikan hias, menanam tunas dan melihat pertumbuhannya setiap pagi, naik ke atas genteng, menyanyi bersama Paul Mc Cartney, hingga bolos kerja untuk pergi berbelanja.

Akhirnya, selama 1 minggu ini, aku memang melakukan apa yang ia sarankan.

Senin malam aku berkeliling Pasar Festival. Selasa Malam, bersama Mahendra nonton film di Setiabudi, berjalan-jalan di seputaran Taman Menteng, menonton futsal, mendengarkan seseorang bermain biola, dan berbincang sambil makan soto lamongan. Rabu Malam, bersama Ambar dan Suci, pergi ke Plaza Semanggi, makan di A&W, dan ngobrol habis-habisan mengenai 2 tema penting dalam hidup kami, yaitu si boss dan pasangan hidup.

Blog ini spesial buat kamu, Mas Kendal. Seperti yang pernah kujanjikan. Sebuah tulisan.

Bring your silly laugh into my life yach...

Friday, March 28, 2008

Longing

Here I am. Just like the statue. Just like the woman standing by the harbour.
Longing for something I've lost.
Why will the whole of love suddenly come on me when I'm sad and feel that you're far away?

Thursday, March 27, 2008

A Thousands Butterflies

Di pojok folder itu teronggok draft awal novellete keduaku yang belum selesai, tapi telah kuberi judul. Tumben. Biasanya, judul-judul tulisanku selalu muncul belakangan. Seolah menegaskan bahwa menulis adalah sebuah perjalanan, bukan patokan target. Jika aku menuliskan judul terlebih dahulu, rasanya seperti hanya mencomot ide-ide dan menyusun kalimat-kalimat yang cocok dengan judul tersebut. Terasa jauh berbeda dibandingkan ketika aku membiarkan saja pikiranku mengembara. Menuliskan apa saja.

Aku pernah bermaksud menulis tentang kehidupan di rumah jompo (gara-gara mata kuliah Psiko Gerontologi yang berkutat dengan permasalahan lansia). Tapi kemudian, ketika cerpen itu selesai, aku justru bercerita banyak mengenai seorang bajingan tua yang kaya raya, menceraikan istrinya dan bercinta dengan babu-babunya setiap malam. Mengenakan pakaian Cossack dan kalung manik-manik besar, menghisap cerutu tanpa henti, mata sedikit rabun tapi nyalang, dan lebih mirip penjelmaan Rasputin. Lalu pada akhirnya, tulisan itu kuberi judul Mencintai Neftali. Itulah proses menulis yang kusukai.

Tapi novellete-ku kali ini, sejak awal aku memang ingin sekali menuliskan tentang kupu-kupu. Tak tahu kenapa. Barangkali karena aku masih teringat akan puluhan bros kupu-kupu yang kupasang di tirai kamar apartemenku diNewcastle dulu. Yang membuat mereka tampak hidup setiapkali angin menerobos masuk melewati kisi-kisi jendela yang kubiarkan terbuka. Kupu-kupu dengan sayap yang mengangguk-angguk. Menemani malam-malam yang dingin dan sepi.

Namun dalam kisah ini, kupu-kupu itu bukan milikku. Ia milik Julian. Seorang bocah lelaki berusia 6 tahun yang dibenci Ayahnya sendiri. Yang tergelincir dan jatuh ketika berkuda di pedesaan Gosford. Yang kerap menggambar jantung hati dengan tulisan ’Hore..Hore..Ayah’, namun tak pernah mendapat pujian. Yang menangis haru di malam natal ketika melihat seorang bocah negro kedinginan di luar pagar sambil menenteng dagangan. Yang bertanya seperti ini :

Ayah, mengapa aku tak boleh membukakan pintu untuk anak itu? Mungkin dia Yesus yang akan menyebarkan kehangatan di dalam rumah kita.”

Yang dijawab seperti ini :

Jangan bodoh! Yesus bukan kulit hitam. Dan Ia tidak berkeliling untuk menjajakan kaus kaki di malam natal!”

Julian yang kusayang melebihi tokoh-tokoh ceritaku yang lain. Julian yang mengingatkanku pada seraut wajah mungil yang tersenyum polos di dalam bus kota menuju Kampung Rambutan. Tanpa alas kaki. Hanya menggenggam kantung plastik lusuh berisi kepingan receh. Yang berbicara dengan isyarat dari kedua tangannya. Yang membuatku mengerti bahwa jemari ternyata juga mampu bercerita.

Dimana malaikat kecilku malam itu? Yang membuatku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis. Yang membuatku ingin sekali berlari ke arahnya dan memeluknya erat, mengajaknya berkeliling kebun binatang sambil menggenggam es krim, setelah mendandaninya dengan pakaian terbaik.

Tapi jika semua itu toh tak terwujud, aku masih memiliki sesuatu yang lain.

Seribu kupu-kupu yang bisa kuterbangkan untuknya. Yang mungkin akan dibacanya kelak ketika ia dewasa. Semoga....

Mi Propia Belleza

Kalau ada yang bertanya padaku, apa hal yang paling ingin kulakukan di akhir pekan ini, aku akan menjawab :

Berdiri di tepi sungai dan berbincang berdua dengan Paulo Coelho sampai pagi.

Sumpah! Rasanya saat-saat sekarang ini aku butuh sosok seperti Coelho, yang menguatkan, sekaligus menenangkan. Sosok yang bisa menghentikan sejenak kelabilan emosiku. Sosok yang bisa mendefinisikan hal-hal yang kuanggap rumit menjadi sebuah metafor sederhana. Sosok yang...Ah, melankolis, tapi tetap realistis.

A river never passes the same place twice. We are always doing things for the first time.

While we move between our source (birth) to our destination (death), the landscape will always be new. We should face these novelties with joy, not with fear – because it is useless to fear what cannot be avoided. A river never stops running.

Itu cuplikan kata-katanya ketika mengawali kalimat pembuka novel terbarunya yang berjudul Like a Flowing River.

Tapi, semudah itukah menjadi seperti sungai yang mengalir? Melupakan hari kemarin dan terus bergerak maju ke depan? Terlebih ketika seluruh kenangan akan masa lalu yang intens itu tiba-tiba berubah menjadi pusaran air yang menghisap. Yang membelit sebelah kaki, ketika disaat yang bersamaan, kaki yang satunya lagi ingin berlari sejauh mungkin.

Kebimbangan : Terlalu sering rasa itu disesali. Tetapi justru itulah deskripsi nasib manusia sebagai makhluk yang dilahirkan oleh sejarah. Spesies yang selalu bergerak dalam pergulatan panjang antara kebebasan untuk mengubah sesuatu di satu pihak dan keterbatasannya yang tak bisa ia atasi di pihak lain. Dan aku termasuk didalamnya.

Lalu aku mulai berfantasi. Mungkin jika acara minum kopi itu benar-benar terwujud, kira-kira akan ada dialog seperti ini (mirip antara dialog Dewi Hutan dengan Danau tempat dimana Narcissus tenggelam).

Coelho : Mengapa kamu menangis?

Saya : Aku menangis karena Narcissus telah pergi.

Coelho : Oh, tak heran kau menangisinya. Dari begitu banyak perempuan di

sekelilingnya, hanya kamulah yang bisa melihat ketampanannya

dari dekat.

Saya : Tapi, apakah Narcissus itu tampan?

Coelho : Siapa lagi yang lebih mengetahuinya dibandingkan kamu?

Di kedua matamulah tiap hari ia berkaca untuk mengagumi ketampanannya.

Lalu aku akan diam selama beberapa saat, sebelum menjawab : Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kusadari bahwa Ia begitu tampan. Aku menangis karena, setiap kali ia menatap mataku, aku melihat, di kedalaman matanya, pantulan kecantikanku sendiri.

My Own Beauty. Mi Propia Belleza.

Hmmm....to be like a flowing river. Aku harus baca buku itu. Harus!

Semoga pengharapanku tak terlalu berlebihan.

Ambigu

Jam pulang kantor kemarin adalah saat-saat yang ambigu. Senang karena waktu bekerja telah selesai, sekaligus sedih karena tak ada lagi yang bisa kulakukan jika sudah melangkahkan kaki ke dalam kamar. Keluar lagi rasanya enggan. Tapi terus-terusan di kamar juga bosan. Apalagi ketika i-tunes ku terus memainkan’The Heart of the Matters’ nya India Arie. Pfff..seharusnya itu lagu yang paling kuhindari saat ini. Tapi anehnya, justru aku membiarkan saja lagu itu diputar berulang-ulang. Ikut menggumamkan liriknya, bahkan menghayati sepenuh hati ketika tiba pada bagian refrain-nya.

”I’ve been trying to live without you now..but i miss you sometimes..”

Whatta god-damn song, dude?

Sejenak setelah merebahkan diri di kasur, Aleta menelpon untuk menginap di kost-ku. Ini ambigu yang kedua. Senang karena setidaknya malam itu aku tak sendirian. Ada seseorang yang bisa kuajak bercerita dan berbagi secuil kesibukanku hari itu. Tapi juga sedih, karena cerita-ceritanya tentang Jogja dan juga Bali (yang baru saja dikunjunginya seminggu terakhir) membuatku rindu akan masa-masa itu. Malam itu Ia terheran-heran melihatku masih betah menatap laptop. Menyelesaikan terjemahan, mereview berita bencana alam hari itu, mengecek kelengkapan peta, foto-foto banjir, gempa, sambil mengingat agenda rapat seminggu ke depan, dll.

”Pekerjaan ini benar-benar beda jauh ya dibandingkan yang kamu jalani dulu,” Ia mengomentariku. Lalu membuatku iri dengan bercerita betapa santainya ’bekerja’ di Bali selama seminggu, atau di depan kamera selama setengah jam, atau menjadi dubber dan voice over untuk beberapa halaman dengan kompensasi yang lumayan.

But I’ve chosen my own way, begitu kataku dalam hati. Dan kadang aku memang mengambil pilihan yang jauh lebih sulit, yang tak bisa dipahami orang kebanyakan, tapi pada akhirnya aku masih merasa bahagia.

“Ini bukan aku banget deh,” ia memilah-milah tumpukan kertas di stopmap berlogo PBB itu dan menggeleng-geleng heran.

Well, kita memang tak harus serupa kan? Kalau dulu kita pernah berjalan beriringan di trotoar yang sama, bukan berarti jalan berbelok yang kutempuh saat ini harus menjadi jalanmu juga.

”Tidur ah..besok ada casting dikebon sirih..” Ia menutup percakapan.

India Arie masih mengalun lembut. Dan tanganku masih menari di atas laptop.

"..And my heart is so shattered, but I know it's about forgiveness..Even if you don't love me anymore.."

Wednesday, March 26, 2008

Menulis lagi



Memandang langit jakarta dari jendela kantor , sebentar lagi pasti hujan turun. Di sebelah barat sana, awan berat menggantung. Aku justru enggan cepat-cepat pulang. Mungkin karena seharian kemarin sudah kuhabiskan di kamar kost.
Sapaan pertama yang mampir di telingaku pagi ini ketika meletakkan tas di atas meja kerja adalah, "Do you feel better?"
Si India-Myanmar yang ternyata cukup peduli juga ketika aku sakit kemarin.
Aku tersenyum tipis dan mengangguk.
"You don't look better!"
Ah, sok tau! kalau masih belum sehat, aku juga pasti lebih memilih tidur di kost.
"You didn't sleep last nite?" tanyanya lagi sambil menunjuk kedua mataku yang sedikit lebam.
Apa pedulimu? Rese! Tapi tentu saja aku justru tertawa.
"Aku menyelesaikan Information System Guideline yang kamu tugaskan Senin kemarin," kataku mencoba membela diri. "Aku lembur semalaman," tambahku lagi.
Lalu dia mengangguk-angguk puas dan berlalu.
"Hey Intan, drink much water, okay?" nasehatnya sebelum pergi.

Dan ternyata aku segera larut dalam aktivitas pergi ke pantry untuk mengambil segelas air dari dispenser. Tak hanya itu. Aku menikmati sekali saat-saat dimana aku duduk di tepian jendela, melihat lalu lintas mega kuningan di bawah sana, sambil menyeruput air putih, atau teh, atau susu, sebelum kembali lagi ke meja kerja. Rasanya itu intermezzo terindah hari ini. Selain acara ladies lunch di ruang meeting tadi, sembari membicarakan- siapa lagi kalau bukan si kardiologis muda berhidung mancung itu. Bosan...

Siang tadi, pergi ke gedung Depkes di sebelah. Aku diperkenalkan dengan semua staff Pusat Penanggulangan Krisis, terutama unit informasi. Respon yang beragam, seperti yang sudah kuduga. Sebagaimana karakter manusia yang tak pernah sama. Tapi cukup menyenangkan juga. Bagaimanapun, mereka akan jadi bagian hidupku juga selama beberapa saat kedepan nantinya.

Aku baru menyadari, sudah lama sekali blog-ku terbengkelai.
Rindu rasanya untuk mulai menulis lagi. Apapun itu. Terlebih ketika sepi ini makin menghunjam.
Sunyi yang memang telah kupilih. Yang tak boleh disesali lagi.
Maka, kini aku hanya ingin menulis. Tentangku. Tentangmu. Tentang dia. Tentang mereka. Tentang apa saja....

Monday, March 24, 2008

Lost love..

Lost poem...
Lost words...
Lost feeling..
Lost love...

No, these are not lost, it is a deception
No, these are not lost, a false perception

Lost poem...
Lost words...
Lost feeling..
Lost love...

No, these are not lost, they exist deep in my soul,
Ultimate forgiveness, a high ideal, and yet a worthy goal.

Lost poem...
Lost words...
Lost feeling..
Lost love...