Saturday, November 17, 2007

Pohon

Anak-anak selalu membuatku takjub. Seperti pagi tadi. Di depanku, di dalam bilik sekolah darurat, duduk 38 anak, mendengarkan sedikit ceritaku mengenai gempa, dan setengah jam kemudian larut dalam aktivitas menggambar, menulis puisi, atau mengecat kaleng-kaleng bekas untuk digunakan sebagai pot.
Aku melihat antusiasme yang besar, dan kegembiraan yang menyala. Dan entah bagaimana, semangat itu menulariku. Membuatku tertawa. Menjadi seperti mereka.
Ketika aku keluar ruangan sejenak, aku melihat di halaman sekolah itu tumbuh sebatang pohon mangga. Tiba-tiba aku ingat kebiasaanku ketika kecil dulu, memeluk batang pohon.
Terakhir kali aku melakukannya, adalah ketika kami singgah di Glen William. Seseorang mengajakku mengunjungi TK masa kecilnya yang terletak di pinggiran pedesaan Newcastle. Disana, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja aku sudah melingkarkan tanganku memeluk pohon ek yang besar. Bersama beberapa murid TK lainnya.
"I'm so surprised to know that you love cuddling the tree instead of me."
Dan sejak saat itu, Ia selalu tertawa heran setiapkali melihatku berdiri membelai pepohonan. Bahkan penjelasanku masih terdengar menggelikan baginya.
Ketika kukatakan bahwa memeluk batang pohon terkadang jauh lebih baik daripada memeluk manusia, Ia berkerut bingung. "How come?"
Karena jika aku memeluk seseorang, semisal dirinya, aku merasakan sesuatu yang hangat dan bergetar, namun di baliknya selalu ada sesuatu. Mungkin itu kerinduan, atau teringat mimpi buruk, atau justru perasaan takut ditinggalkan. Manusia memiliki terlalu banyak pikiran, terlalu banyak kebutuhan.
Berbeda dengan pepohonan. Mereka berdiri kokoh, dan nafas mereka begitu tenang dan dalam. Dibandingkan apapun juga,akar-akarnya berada lebih dekat dengan pusat bumi, dan puncaknya lebih dekat ke langit. Menyentuh pohon tak berbeda dengan menyentuh makhluk hidup manapun. Dan mereka adalah makhluk hidup yang paling setia berada pada tempatnya.
Jadi pagi tadi, ketika aku tengah membelai batang pohon mangga itu, beberapa pasang mata ternyata mengawasiku. Mata-mata yang bersinar jenaka, penuh rasa ingin tahu, penuh dengan mimpi. Mereka pun meniru perilakuku. Membelai batang pohon mangga itu. Membisikkan sesuatu. Terkikik manja dengan fantasi yang mereka ciptakan sendiri. Begitu bahagia.
Seandainya saja kau melihat mereka saat itu, kau pasti akan lebih memahami alasanku....

No comments:

Post a Comment

silahkan dikomentari