Saturday, November 24, 2007

Parted - Siegfried Sassoon

Tadi, seusai acara pembukaan PAUD berakhir, berenam kami pergi ke pantai Pandansari. Cuaca panas tak sedikitpun mengurangi kegembiraanku melihat laut. Terlebih disana ada mercusuar yang tinggi menjulang. Melihat bangunan itu, tiba-tiba rasa rinduku padanya menyeruak kembali. Namun ketika kelima temanku mengajakku naik, aku justru menggeleng sopan. Aku hanya ingin pergi ke mercusuar sendiri, atau bersamanya. Tidak dengan rombongan yang ribut minta difoto setiap dua menit sekali seperti kali ini.
Ia pernah berkata padaku bahwa geografi adalah sesuatu yang ajaib, dan tempat paling indah untuk mempelajarinya adalah di seputaran mercusuar. Sebab disana angin bertiup dengan kencang. Udaranya tak hanya menarik mata, namun juga pikiran. Jadi, ketika pertama kalinya Ia mengajakku pergi ke mercusuar di pelabuhan Stockton, aku tahu bahwa ucapannya benar. Tapi kenyataannya, aku tak hanya mempelajari geografi bersamanya. Aku mempelajari dirinya. Dan itu jauh lebih menyenangkan.
Sejak awal perkenalan, aku tahu Ia tak menyukai puisi. Bahkan tak jarang Ia mencemoohku dengan mengatakan bahwa puisi hanyalah milik orang-orang kesepian yang tidak mau berdamai dengan kenyataan. Ia lebih menyukai musik. Baginya, musik terkesan lebih realistis. Tapi aku benci sekali dengan grup band favoritnya, 'The Pavement.'
Dan suatu sore, entah itu yang keberapa kalinya ia mengajakku ke pelabuhan. Ketika kami berbincang ringan, tiba-tiba Ia mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku kemejanya. Ternyata kumpulan puisi Thomas Hardy. Lalu ia membacakan beberapa syair untukku. Satu yang kuingat berjudul "Any Little Old Song'
Itulah saat yang teramat berharga bagiku. Ketika cinta melahirkan kesediaan untuk memahami dan mengerti. Menjembatani begitu banyak perbedaan yang membentang. Saling membuka diri. Dan dibutuhkan kesabaran yang jauh dari kata biasa untuk mencapai semua itu.
Beberapa hari setelah itu, aku menyenandungkan 'Carrot Rope' untuknya. Itu salah satu lagu The Pavement. Ia tersenyum hari itu. Dan ketika mengantarkanku kembali ke apartemen, Ia memberiku sebuah buku kumpulan puisi yang lain, karya Siegfried Sassoon. Dan memberi tanda pada cuplikan sebuah puisi yang berjudul 'Parted'

"... And I, in my loneliness, longing for you.
I am alive, only that I may find you at the end..."



2 comments:

  1. kerinduan itu juga ajaib...itu indah...kadang keindahan kehangatan perasaan melambung yang luar biasa ini menjadikannya sebagai keajaiban dunia uang ke-9...hmmm itulah kerinduan.dan demikianlah itu berlaku.

    ReplyDelete

silahkan dikomentari