Hari ini seharusnya libur, tetapi deadline proyek yang berakhir bulan ini membuat semua orang seolah berlari. Tak terkecuali aku. Entah aku harus mengeluh atau justru bersyukur dengan situasi ini. Barangkali kesibukan yang jauh dari kata biasa ini justru mampu mengalihkan pikiranku dari rasa kehilangan. Beberapa hari lalu.
Malam minggu ini terasa lebih panjang. Mungkin karena sudah hampir tengah malam dan aku masih terjaga. Saat-saat menjelang dini hari seperti ini adalah waktu yang paling membuatku nyaman, sama sekali tak ada yang menggangguku. Aku hanya ada disini, di dunia kecil yang selalu kumiliki, dengan tulisan, musik dan secangkir kopi.
Tapi aku menangis lirih malam ini tanpa tahu kenapa. Barangkali karena kata-katamu beberapa hari lalu masih membekas di ingatanku. "...Aku menyesal pernah mencintaimu..." dan rangkaian kalimat lainnya. Aku melihat ada kilatan kebencian yang kau tujukan padaku. Juga kemarahan. Dan suara derit mobilmu yang keras menjadi potongan adegan terakhir yang menutup fragmen kisah kita.
Sejak saat itu aku berusaha meyakinkan diriku bahwa kau membenciku. Tetapi kadang hatiku bertanya, "Bagaimana mungkin seseorang bisa membenci sementara pada saat yang sama dia masih mencintai sedemikian besarnya?"
Semakin aku berfikir, maka aku menjadi sadar mengapa ucapanmu begitu sinis ketika itu. Kau bukannya tidak peduli atau membenciku, kau hanya terlalu tegang dan terluka, karena kau berada di pihak yang mencintai terlebih dahulu. Orang yang mencintai menanggung resiko lebih besar, dan sering harus membayar dengan harga yang lebih tinggi. Alih-alih membuka hati, cinta lebih sering menutupnya. Kenapa? Mungkin karena kita khawatir orang lain akan merampas cinta itu dari kita dan mereguknya sampai habis. Tapi tahukah kau, cinta itu bagai udara, tak berbatas...
Siang itu, kau tidak memberiku kesempatan untuk mengatakan sesuatu. Adakah yang lebih menyedihkan daripada perpisahan yang tiada sempurna seperti saat itu? Bagiku, dalam hidup ini kepergian orang-orang tidak memberati kita dibanding kata-kata yang tak sempat terucapkan di antara kita.
Dan ketika pertama kali kau membanting pintu mobil di depan mukaku, rasanya berat sekali, dan aku merasa begitu sedih. Aku tak sanggup menemukan cukup kekuatan untuk menghadapi kemarahanmu.
Aku tidak akan pernah membencimu, dan ingatanku tentangmu tak akan pernah berubah. Kata-katamu memang terdengar menyakitkan siang itu, tetapi aku tahu kau tidak bermaksud menyakitiku. Kau tidak jahat. Dan aku selalu berusaha melihat segala sesuatu tidak secara hitam-putih belaka. Kadang-kadang orang melakukan sesuatu yang buruk, karena dia lemah atau bingung, atau takut dan putus asa. Dan aku harus mengakui, dalam saat-saat sulit tertentu ketika aku membutuhkan bahu untuk bersandar, kau menyediakannya untukku. Tidak banyak orang yang bisa melakukan itu padaku...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment
silahkan dikomentari