Tadi, seusai acara pembukaan PAUD berakhir, berenam kami pergi ke pantai Pandansari. Cuaca panas tak sedikitpun mengurangi kegembiraanku melihat laut. Terlebih disana ada mercusuar yang tinggi menjulang. Melihat bangunan itu, tiba-tiba rasa rinduku padanya menyeruak kembali. Namun ketika kelima temanku mengajakku naik, aku justru menggeleng sopan. Aku hanya ingin pergi ke mercusuar sendiri, atau bersamanya. Tidak dengan rombongan yang ribut minta difoto setiap dua menit sekali seperti kali ini.
Ia pernah berkata padaku bahwa geografi adalah sesuatu yang ajaib, dan tempat paling indah untuk mempelajarinya adalah di seputaran mercusuar. Sebab disana angin bertiup dengan kencang. Udaranya tak hanya menarik mata, namun juga pikiran. Jadi, ketika pertama kalinya Ia mengajakku pergi ke mercusuar di pelabuhan Stockton, aku tahu bahwa ucapannya benar. Tapi kenyataannya, aku tak hanya mempelajari geografi bersamanya. Aku mempelajari dirinya. Dan itu jauh lebih menyenangkan.
Sejak awal perkenalan, aku tahu Ia tak menyukai puisi. Bahkan tak jarang Ia mencemoohku dengan mengatakan bahwa puisi hanyalah milik orang-orang kesepian yang tidak mau berdamai dengan kenyataan. Ia lebih menyukai musik. Baginya, musik terkesan lebih realistis. Tapi aku benci sekali dengan grup band favoritnya, 'The Pavement.'
Dan suatu sore, entah itu yang keberapa kalinya ia mengajakku ke pelabuhan. Ketika kami berbincang ringan, tiba-tiba Ia mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku kemejanya. Ternyata kumpulan puisi Thomas Hardy. Lalu ia membacakan beberapa syair untukku. Satu yang kuingat berjudul "Any Little Old Song'
Itulah saat yang teramat berharga bagiku. Ketika cinta melahirkan kesediaan untuk memahami dan mengerti. Menjembatani begitu banyak perbedaan yang membentang. Saling membuka diri. Dan dibutuhkan kesabaran yang jauh dari kata biasa untuk mencapai semua itu.
Beberapa hari setelah itu, aku menyenandungkan 'Carrot Rope' untuknya. Itu salah satu lagu The Pavement. Ia tersenyum hari itu. Dan ketika mengantarkanku kembali ke apartemen, Ia memberiku sebuah buku kumpulan puisi yang lain, karya Siegfried Sassoon. Dan memberi tanda pada cuplikan sebuah puisi yang berjudul 'Parted'
"... And I, in my loneliness, longing for you.
I am alive, only that I may find you at the end..."
Saturday, November 24, 2007
Friday, November 23, 2007
Sonet XVII - Pablo Neruda
Aku tidak mencintaimu
seandainya kau adalah mawar tawar, topaz, atau tangkai anyelir yang menyemai api
Aku mencintaimu seperti benda hitam yang dicintai secara rahasia
antara bayangan dan jiwa
Aku mencintaimu seperti tanaman yang tidak mekar dan menyebar
tersembunyi di dalam dirinya cahaya dari bunga-bunga
dan berkat cintamu yang gelap di dalam diriku
hiduplah wewangi pekat yang terbit dari bumi
Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau darimana
Aku mencintaimu dengan sederhana
Tanpa persoalan atau kebanggaan
Aku mencintaimu dengan cara ini karena aku tak tahu cara lain untuk mencinta
Tapi inilah dimana tiada kamu atau aku
Begitu lekat..
Tanganmu diatas dadaku adalah tanganku
Begitu rapat...
Ketika aku jatuh lelap, adalah matamu yang melindap
seandainya kau adalah mawar tawar, topaz, atau tangkai anyelir yang menyemai api
Aku mencintaimu seperti benda hitam yang dicintai secara rahasia
antara bayangan dan jiwa
Aku mencintaimu seperti tanaman yang tidak mekar dan menyebar
tersembunyi di dalam dirinya cahaya dari bunga-bunga
dan berkat cintamu yang gelap di dalam diriku
hiduplah wewangi pekat yang terbit dari bumi
Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau darimana
Aku mencintaimu dengan sederhana
Tanpa persoalan atau kebanggaan
Aku mencintaimu dengan cara ini karena aku tak tahu cara lain untuk mencinta
Tapi inilah dimana tiada kamu atau aku
Begitu lekat..
Tanganmu diatas dadaku adalah tanganku
Begitu rapat...
Ketika aku jatuh lelap, adalah matamu yang melindap
Saturday, November 17, 2007
tus ojos
Dering telpon itu mengagetkanku. Ternyata suaramu. Jauh dan samar. Hampir dua minggu berlalu semenjak kau pergi ke Bangkok, dan ini telepon pertama yang kudapat. Ternyata kau sudah berada di Vientianne.
Lalu kau dan aku bertukar cerita. Nada suaramu terdengar begitu gembira ketika menceritakan tentang kedatangan Kevin, dan Vientianne yang kau suka, lebih daripada Bangkok. Kau masih juga mengatakan mengenai rencanamu pindah ke Eropa setelah ini.
"Unless you want me to come back to Yogyakarta." bisikmu lirih.
Aku tak segera menjawab, namun justru menceritakan padamu tentang beberapa hal baru yang kulakukan, termasuk mendaftar kursus Bahasa Spanyol online. Kukatakan juga bahwa aku tak akan memiliki kesibukan apa-apa Desember nanti. Sehingga mungkin online spanish course itu adalah pilihan yang tepat. Kau begitu antusias mendengar dan mendukung rencanaku.
"I need to do placement test."
"So?"
"Yeh, I need your help."
Kamu cukup menguasai Spanyol, disamping Jerman dan Jepang tentunya.
"Sure I will." jawabmu mantap.
Lalu kita mulai bicara terpatah-patah. Ingatanku kacau sekali ternyata. Dan di akhir pembicaraan itu, sebelum kau menutup telpon dengan kata-kata "hasta el proximo mes", kau mengucapkan satu kalimat sederhana.
"En tus ojos tengo una razon para sonar..."
Lalu kau dan aku bertukar cerita. Nada suaramu terdengar begitu gembira ketika menceritakan tentang kedatangan Kevin, dan Vientianne yang kau suka, lebih daripada Bangkok. Kau masih juga mengatakan mengenai rencanamu pindah ke Eropa setelah ini.
"Unless you want me to come back to Yogyakarta." bisikmu lirih.
Aku tak segera menjawab, namun justru menceritakan padamu tentang beberapa hal baru yang kulakukan, termasuk mendaftar kursus Bahasa Spanyol online. Kukatakan juga bahwa aku tak akan memiliki kesibukan apa-apa Desember nanti. Sehingga mungkin online spanish course itu adalah pilihan yang tepat. Kau begitu antusias mendengar dan mendukung rencanaku.
"I need to do placement test."
"So?"
"Yeh, I need your help."
Kamu cukup menguasai Spanyol, disamping Jerman dan Jepang tentunya.
"Sure I will." jawabmu mantap.
Lalu kita mulai bicara terpatah-patah. Ingatanku kacau sekali ternyata. Dan di akhir pembicaraan itu, sebelum kau menutup telpon dengan kata-kata "hasta el proximo mes", kau mengucapkan satu kalimat sederhana.
"En tus ojos tengo una razon para sonar..."
Pohon
Anak-anak selalu membuatku takjub. Seperti pagi tadi. Di depanku, di dalam bilik sekolah darurat, duduk 38 anak, mendengarkan sedikit ceritaku mengenai gempa, dan setengah jam kemudian larut dalam aktivitas menggambar, menulis puisi, atau mengecat kaleng-kaleng bekas untuk digunakan sebagai pot.
Aku melihat antusiasme yang besar, dan kegembiraan yang menyala. Dan entah bagaimana, semangat itu menulariku. Membuatku tertawa. Menjadi seperti mereka.
Ketika aku keluar ruangan sejenak, aku melihat di halaman sekolah itu tumbuh sebatang pohon mangga. Tiba-tiba aku ingat kebiasaanku ketika kecil dulu, memeluk batang pohon.
Terakhir kali aku melakukannya, adalah ketika kami singgah di Glen William. Seseorang mengajakku mengunjungi TK masa kecilnya yang terletak di pinggiran pedesaan Newcastle. Disana, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja aku sudah melingkarkan tanganku memeluk pohon ek yang besar. Bersama beberapa murid TK lainnya.
"I'm so surprised to know that you love cuddling the tree instead of me."
Dan sejak saat itu, Ia selalu tertawa heran setiapkali melihatku berdiri membelai pepohonan. Bahkan penjelasanku masih terdengar menggelikan baginya.
Ketika kukatakan bahwa memeluk batang pohon terkadang jauh lebih baik daripada memeluk manusia, Ia berkerut bingung. "How come?"
Karena jika aku memeluk seseorang, semisal dirinya, aku merasakan sesuatu yang hangat dan bergetar, namun di baliknya selalu ada sesuatu. Mungkin itu kerinduan, atau teringat mimpi buruk, atau justru perasaan takut ditinggalkan. Manusia memiliki terlalu banyak pikiran, terlalu banyak kebutuhan.
Berbeda dengan pepohonan. Mereka berdiri kokoh, dan nafas mereka begitu tenang dan dalam. Dibandingkan apapun juga,akar-akarnya berada lebih dekat dengan pusat bumi, dan puncaknya lebih dekat ke langit. Menyentuh pohon tak berbeda dengan menyentuh makhluk hidup manapun. Dan mereka adalah makhluk hidup yang paling setia berada pada tempatnya.
Jadi pagi tadi, ketika aku tengah membelai batang pohon mangga itu, beberapa pasang mata ternyata mengawasiku. Mata-mata yang bersinar jenaka, penuh rasa ingin tahu, penuh dengan mimpi. Mereka pun meniru perilakuku. Membelai batang pohon mangga itu. Membisikkan sesuatu. Terkikik manja dengan fantasi yang mereka ciptakan sendiri. Begitu bahagia.
Seandainya saja kau melihat mereka saat itu, kau pasti akan lebih memahami alasanku....
Aku melihat antusiasme yang besar, dan kegembiraan yang menyala. Dan entah bagaimana, semangat itu menulariku. Membuatku tertawa. Menjadi seperti mereka.
Ketika aku keluar ruangan sejenak, aku melihat di halaman sekolah itu tumbuh sebatang pohon mangga. Tiba-tiba aku ingat kebiasaanku ketika kecil dulu, memeluk batang pohon.
Terakhir kali aku melakukannya, adalah ketika kami singgah di Glen William. Seseorang mengajakku mengunjungi TK masa kecilnya yang terletak di pinggiran pedesaan Newcastle. Disana, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja aku sudah melingkarkan tanganku memeluk pohon ek yang besar. Bersama beberapa murid TK lainnya.
"I'm so surprised to know that you love cuddling the tree instead of me."
Dan sejak saat itu, Ia selalu tertawa heran setiapkali melihatku berdiri membelai pepohonan. Bahkan penjelasanku masih terdengar menggelikan baginya.
Ketika kukatakan bahwa memeluk batang pohon terkadang jauh lebih baik daripada memeluk manusia, Ia berkerut bingung. "How come?"
Karena jika aku memeluk seseorang, semisal dirinya, aku merasakan sesuatu yang hangat dan bergetar, namun di baliknya selalu ada sesuatu. Mungkin itu kerinduan, atau teringat mimpi buruk, atau justru perasaan takut ditinggalkan. Manusia memiliki terlalu banyak pikiran, terlalu banyak kebutuhan.
Berbeda dengan pepohonan. Mereka berdiri kokoh, dan nafas mereka begitu tenang dan dalam. Dibandingkan apapun juga,akar-akarnya berada lebih dekat dengan pusat bumi, dan puncaknya lebih dekat ke langit. Menyentuh pohon tak berbeda dengan menyentuh makhluk hidup manapun. Dan mereka adalah makhluk hidup yang paling setia berada pada tempatnya.
Jadi pagi tadi, ketika aku tengah membelai batang pohon mangga itu, beberapa pasang mata ternyata mengawasiku. Mata-mata yang bersinar jenaka, penuh rasa ingin tahu, penuh dengan mimpi. Mereka pun meniru perilakuku. Membelai batang pohon mangga itu. Membisikkan sesuatu. Terkikik manja dengan fantasi yang mereka ciptakan sendiri. Begitu bahagia.
Seandainya saja kau melihat mereka saat itu, kau pasti akan lebih memahami alasanku....
Saturday, November 3, 2007
Emena
Oya, ada sedikit cerita. Semalam, karena tak bisa tidur, aku mencoba membuat personal site menggunakan multiply. Dari puluhan nama yang coba kudaftarkan, ternyata hampir semuanya telah dipakai. Lalu tiba-tiba aku ingat sebuah kata yang artinya adalah 'aku' tapi dalam bahasa Yunani.
Emena.
Syukurlah, emena is available! Sebenarnya ingin juga menggunakan kata-kata lain, semisal souvaros, loukaniko, halasmeno faghito, paghomenos atau bahkan kalismera dan kalispera. Tetapi terlalu panjang. Bahkan kata 'intan' atau 'diamond' dalam bahasa Yunani berupa 'Dhiamandhi.' Hmm..agak aneh kalau kupakai sebagai address. Sebab terdengar seperti 'dia mandi.'
Anyway..aku hanya ingin bilang, bahwa aku senang dengan 'emena' ku yang baru.
Meski halamannya belum sempat tersentuh sesuatu.
Cheers..
Efharisto..
Emena.
Syukurlah, emena is available! Sebenarnya ingin juga menggunakan kata-kata lain, semisal souvaros, loukaniko, halasmeno faghito, paghomenos atau bahkan kalismera dan kalispera. Tetapi terlalu panjang. Bahkan kata 'intan' atau 'diamond' dalam bahasa Yunani berupa 'Dhiamandhi.' Hmm..agak aneh kalau kupakai sebagai address. Sebab terdengar seperti 'dia mandi.'
Anyway..aku hanya ingin bilang, bahwa aku senang dengan 'emena' ku yang baru.
Meski halamannya belum sempat tersentuh sesuatu.
Cheers..
Efharisto..
Milk and toast and honey
Tidak ada yang lebih menyenangkan selain bangun di hari Minggu ketika matahari sudah terbit 3 jam sebelumnya. Cuci muka, mengolesi roti dengan selai srikaya, segelas susu coklat hangat, dan waktu luang. Perasaanku jauh lebih baik dibandingkan tadi malam. Lagipula cuaca cukup cerah. Semoga hujan yang beberapa hari terakhir ini rutin mengunjungi Yogya, tak mampir hari ini. What a wonderful world...
Dalam salah satu lagunya, Roxette bilang : "Milk and toast and honey make it sunny on a rainy saturday..." Agaknya kalimat itu bisa kujadikan headline pagi ini. Secepat kilat aku merancang daftar ritual yang sudah lama tidak kujalani, dan semoga ada cukup waktu untuk melakukannya hari ini.
1. creambath
2. menggesek Ashton meski hanya beberapa menit
3. pergi ke pameran buku
4. pizza..pizza..pizza..
5. menyortir gunungan kertas di atas meja.
6. mendengarkan 3 keping cd Johny Cash yang masih terbungkus plastik sejak sebulan lalu.
Well, setidaknya rencana itu masih realistis dan terjangkau.
Desember nanti, 1 bulan penuh kebebasan, bakal ada ratusan daftar yang menyusul.
And I'm ready for that..
hehehe..
Dalam salah satu lagunya, Roxette bilang : "Milk and toast and honey make it sunny on a rainy saturday..." Agaknya kalimat itu bisa kujadikan headline pagi ini. Secepat kilat aku merancang daftar ritual yang sudah lama tidak kujalani, dan semoga ada cukup waktu untuk melakukannya hari ini.
1. creambath
2. menggesek Ashton meski hanya beberapa menit
3. pergi ke pameran buku
4. pizza..pizza..pizza..
5. menyortir gunungan kertas di atas meja.
6. mendengarkan 3 keping cd Johny Cash yang masih terbungkus plastik sejak sebulan lalu.
Well, setidaknya rencana itu masih realistis dan terjangkau.
Desember nanti, 1 bulan penuh kebebasan, bakal ada ratusan daftar yang menyusul.
And I'm ready for that..
hehehe..
nocturno
Hari ini seharusnya libur, tetapi deadline proyek yang berakhir bulan ini membuat semua orang seolah berlari. Tak terkecuali aku. Entah aku harus mengeluh atau justru bersyukur dengan situasi ini. Barangkali kesibukan yang jauh dari kata biasa ini justru mampu mengalihkan pikiranku dari rasa kehilangan. Beberapa hari lalu.
Malam minggu ini terasa lebih panjang. Mungkin karena sudah hampir tengah malam dan aku masih terjaga. Saat-saat menjelang dini hari seperti ini adalah waktu yang paling membuatku nyaman, sama sekali tak ada yang menggangguku. Aku hanya ada disini, di dunia kecil yang selalu kumiliki, dengan tulisan, musik dan secangkir kopi.
Tapi aku menangis lirih malam ini tanpa tahu kenapa. Barangkali karena kata-katamu beberapa hari lalu masih membekas di ingatanku. "...Aku menyesal pernah mencintaimu..." dan rangkaian kalimat lainnya. Aku melihat ada kilatan kebencian yang kau tujukan padaku. Juga kemarahan. Dan suara derit mobilmu yang keras menjadi potongan adegan terakhir yang menutup fragmen kisah kita.
Sejak saat itu aku berusaha meyakinkan diriku bahwa kau membenciku. Tetapi kadang hatiku bertanya, "Bagaimana mungkin seseorang bisa membenci sementara pada saat yang sama dia masih mencintai sedemikian besarnya?"
Semakin aku berfikir, maka aku menjadi sadar mengapa ucapanmu begitu sinis ketika itu. Kau bukannya tidak peduli atau membenciku, kau hanya terlalu tegang dan terluka, karena kau berada di pihak yang mencintai terlebih dahulu. Orang yang mencintai menanggung resiko lebih besar, dan sering harus membayar dengan harga yang lebih tinggi. Alih-alih membuka hati, cinta lebih sering menutupnya. Kenapa? Mungkin karena kita khawatir orang lain akan merampas cinta itu dari kita dan mereguknya sampai habis. Tapi tahukah kau, cinta itu bagai udara, tak berbatas...
Siang itu, kau tidak memberiku kesempatan untuk mengatakan sesuatu. Adakah yang lebih menyedihkan daripada perpisahan yang tiada sempurna seperti saat itu? Bagiku, dalam hidup ini kepergian orang-orang tidak memberati kita dibanding kata-kata yang tak sempat terucapkan di antara kita.
Dan ketika pertama kali kau membanting pintu mobil di depan mukaku, rasanya berat sekali, dan aku merasa begitu sedih. Aku tak sanggup menemukan cukup kekuatan untuk menghadapi kemarahanmu.
Aku tidak akan pernah membencimu, dan ingatanku tentangmu tak akan pernah berubah. Kata-katamu memang terdengar menyakitkan siang itu, tetapi aku tahu kau tidak bermaksud menyakitiku. Kau tidak jahat. Dan aku selalu berusaha melihat segala sesuatu tidak secara hitam-putih belaka. Kadang-kadang orang melakukan sesuatu yang buruk, karena dia lemah atau bingung, atau takut dan putus asa. Dan aku harus mengakui, dalam saat-saat sulit tertentu ketika aku membutuhkan bahu untuk bersandar, kau menyediakannya untukku. Tidak banyak orang yang bisa melakukan itu padaku...
Malam minggu ini terasa lebih panjang. Mungkin karena sudah hampir tengah malam dan aku masih terjaga. Saat-saat menjelang dini hari seperti ini adalah waktu yang paling membuatku nyaman, sama sekali tak ada yang menggangguku. Aku hanya ada disini, di dunia kecil yang selalu kumiliki, dengan tulisan, musik dan secangkir kopi.
Tapi aku menangis lirih malam ini tanpa tahu kenapa. Barangkali karena kata-katamu beberapa hari lalu masih membekas di ingatanku. "...Aku menyesal pernah mencintaimu..." dan rangkaian kalimat lainnya. Aku melihat ada kilatan kebencian yang kau tujukan padaku. Juga kemarahan. Dan suara derit mobilmu yang keras menjadi potongan adegan terakhir yang menutup fragmen kisah kita.
Sejak saat itu aku berusaha meyakinkan diriku bahwa kau membenciku. Tetapi kadang hatiku bertanya, "Bagaimana mungkin seseorang bisa membenci sementara pada saat yang sama dia masih mencintai sedemikian besarnya?"
Semakin aku berfikir, maka aku menjadi sadar mengapa ucapanmu begitu sinis ketika itu. Kau bukannya tidak peduli atau membenciku, kau hanya terlalu tegang dan terluka, karena kau berada di pihak yang mencintai terlebih dahulu. Orang yang mencintai menanggung resiko lebih besar, dan sering harus membayar dengan harga yang lebih tinggi. Alih-alih membuka hati, cinta lebih sering menutupnya. Kenapa? Mungkin karena kita khawatir orang lain akan merampas cinta itu dari kita dan mereguknya sampai habis. Tapi tahukah kau, cinta itu bagai udara, tak berbatas...
Siang itu, kau tidak memberiku kesempatan untuk mengatakan sesuatu. Adakah yang lebih menyedihkan daripada perpisahan yang tiada sempurna seperti saat itu? Bagiku, dalam hidup ini kepergian orang-orang tidak memberati kita dibanding kata-kata yang tak sempat terucapkan di antara kita.
Dan ketika pertama kali kau membanting pintu mobil di depan mukaku, rasanya berat sekali, dan aku merasa begitu sedih. Aku tak sanggup menemukan cukup kekuatan untuk menghadapi kemarahanmu.
Aku tidak akan pernah membencimu, dan ingatanku tentangmu tak akan pernah berubah. Kata-katamu memang terdengar menyakitkan siang itu, tetapi aku tahu kau tidak bermaksud menyakitiku. Kau tidak jahat. Dan aku selalu berusaha melihat segala sesuatu tidak secara hitam-putih belaka. Kadang-kadang orang melakukan sesuatu yang buruk, karena dia lemah atau bingung, atau takut dan putus asa. Dan aku harus mengakui, dalam saat-saat sulit tertentu ketika aku membutuhkan bahu untuk bersandar, kau menyediakannya untukku. Tidak banyak orang yang bisa melakukan itu padaku...
Thursday, November 1, 2007
Long lost Friend
Pagi tadi, aku membuka-buka kembali “Il Postino” karangan Antonio Skarmeta yang terpajang rapi di rak buku paling atas. Itu hadiah ulang tahun dari kamu tiga tahun lalu. Ketika kita masih sama-sama gemar berdiskusi tentang politik Internasional. Kiblatmu Paris, sementara aku lebih tertarik dengan Balkan dan sekitarnya.
Setelah kamu menikah dan ikut suamimu ke Tangerang, aku merasa sedikit kehilangan. Terutama karena tidak ada lagi sahabat dekat yang bisa kuajak menganalisis sajak, mendiskusikan Gilmore Girls, atau sekedar mengisi jam kosong waktu kuliah dengan obrolan seputar The Beatless.
Aku kangen kamu.
Kangen dengan love-story mu yang menyenangkan bersama Mas Bowie. Kangen dengan perdebatan kita tentang siapa yang lebih cakep, “Jess” atau “Dean”. Kangen dengan semua kekonyolan yang terjadi ketika kita memasuki usia 20.
Kita hanya sesekali mengirim email. Aku tahu, kamu memiliki peran dan tanggung jawab baru yang terkadang membuatmu terbelenggu. Dan dari seluruh keluh kesah yang kamu kirimkan untukku, ternyata ada juga rasa rindu untuk menjadi ‘bebas’ seperti dulu.
“…Sometimes I wish I were single just like you… Kerja, bisa traveling, ngembangin hobby, punya waktu banyak untuk diri sendiri, while sometimes I feel like I was trapped as a housewife..”
Fuuiih..aku sedikit tercenung membaca kalimatmu. Aku tahu, kamu cukup bahagia dengan pilihanmu. Mungkin keluhan tadi hanya sedikit bumbu dalam kehidupan rumah tangga yang memang kadang terasa membosankan, dan siapapun juga pasti mengalami itu. Lalu akupun mengingat saat-saat terakhir menjelang kelulusan kita dulu.
“So, what’s next?” aku bertanya padamu.
Dengan mantap kamu menjawab tanpa ragu sedikitpun, “I’m gonna marry him!”
Finally, kalian benar-benar menikah, tetap saling mencintai sebesar dulu, dan bahagia dengan kehidupan berdua di kota kelahirannya.
Rasanya ingin sekali aku membalas emailmu dengan kalimat singkat ini :
“…Well, I wish I could be absolutely sure when choosing someone to marry with, just like you…”
Setelah kamu menikah dan ikut suamimu ke Tangerang, aku merasa sedikit kehilangan. Terutama karena tidak ada lagi sahabat dekat yang bisa kuajak menganalisis sajak, mendiskusikan Gilmore Girls, atau sekedar mengisi jam kosong waktu kuliah dengan obrolan seputar The Beatless.
Aku kangen kamu.
Kangen dengan love-story mu yang menyenangkan bersama Mas Bowie. Kangen dengan perdebatan kita tentang siapa yang lebih cakep, “Jess” atau “Dean”. Kangen dengan semua kekonyolan yang terjadi ketika kita memasuki usia 20.
Kita hanya sesekali mengirim email. Aku tahu, kamu memiliki peran dan tanggung jawab baru yang terkadang membuatmu terbelenggu. Dan dari seluruh keluh kesah yang kamu kirimkan untukku, ternyata ada juga rasa rindu untuk menjadi ‘bebas’ seperti dulu.
“…Sometimes I wish I were single just like you… Kerja, bisa traveling, ngembangin hobby, punya waktu banyak untuk diri sendiri, while sometimes I feel like I was trapped as a housewife..”
Fuuiih..aku sedikit tercenung membaca kalimatmu. Aku tahu, kamu cukup bahagia dengan pilihanmu. Mungkin keluhan tadi hanya sedikit bumbu dalam kehidupan rumah tangga yang memang kadang terasa membosankan, dan siapapun juga pasti mengalami itu. Lalu akupun mengingat saat-saat terakhir menjelang kelulusan kita dulu.
“So, what’s next?” aku bertanya padamu.
Dengan mantap kamu menjawab tanpa ragu sedikitpun, “I’m gonna marry him!”
Finally, kalian benar-benar menikah, tetap saling mencintai sebesar dulu, dan bahagia dengan kehidupan berdua di kota kelahirannya.
Rasanya ingin sekali aku membalas emailmu dengan kalimat singkat ini :
“…Well, I wish I could be absolutely sure when choosing someone to marry with, just like you…”
Subscribe to:
Posts (Atom)