"Ikan masku mati." begitu bisikmu sedih pagi tadi. Aku menatap wajah mungilmu. Kepolosan kanak-kanak yang selalu membuatku iba.
"kalau begitu, mari kita kubur dan kita doakan bersama," Aku membimbingmu menuju halaman belakang rumah. Menggali sedikit tanah yang tersisa, lalu bersama-sama meletakkan binatang kesayanganmu itu. Tak lupa kita menancapkan ranting kering sebagai batu nisan. lalu kita berdoa penuh keyakinan.
"Apakah kamar di surga itu luas?" tanyamu tak percaya.
Aku mengangguk. "Sangat luas, hingga semua binatang kesayanganmu yang telah pergi akan bisa berkumpul disana." Kau berbinar bahagia. Pasti terbayang dalam benakmu ingatan akan hamster, kelinci, kucing, bahkan cicak dan ratusan serangga yang kausayangi di masa lalu.
"Apa aku bisa punya kamar sendiri di surga nanti?" kau masih penasaran.
"Tentu." bisikku sambil mengusap kepalamu lembut. "Tapi mengapa kau ingin kamar sendiri? tidakkah lebih nyaman tinggal bersama Moly, Kiko, Alga, dan semua binatang itu?"
Kau menggeleng. "Aku ingin tinggal dengan yang paling aku sayangi. Tapi aku akan mencari kamar yang dekat dengan kamar mereka, sehingga aku bisa bermain dengan mereka setiap hari.
"Oya, siapa yang paling kausayangi itu?"
Kau menyebutkan satu nama yang membuatku tersenyum.
Lalu aku bertanya padamu,"Kalau aku mati, bolehkah aku tinggal di sebelah kamarmu?"
"Tentu!" kau bersorak kegirangan dan wajahmu yang bulat menatapku hangat. "Tapi harus dengan orang yang paling disayangi juga."
Akhirnya, ketika upacara penguburan itu selesai, kau sudah kembali bermain-main lagi dengan sepeda kecilmu. Kesedihan itu lenyap. Aku menatapmu dari jauh. Mungkin kelak, ketika kau sudah cukup dewasa, aku akan menceritakan padamu tentang orang yang teramat kusayangi saat ini...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
hangat banget.tapi bener juga..ditinggalkan bukan hanya sebuah momen yang mengharukan dan kesedihan..memang ada sebuah keindahan yang luar biasa..dan itu menjadikan hangat didalam.
ReplyDelete