"When i'm stuck of the day, that gray and lonely...
The sun will come out tomorrow, so you gotta hang on till tomorrow, come what may..
Tomorrow..tomorrow..I love ya, tomorrow..."
Tiba-tiba penggalan soundtrack "Annie" itu meluncur di sela-sela michael buble dan the beatles yang sengaja kuputar. Suara jernih Aileen Quinn membuatku terpaku. Sebelas tahun yang lalu, di sebuah acara tutup tahun sekolah, aku ingat bahwa aku pernah menyanyikan lagu itu.
Aku terharu mendengarnya. Rasanya seolah sebagian diriku muncul kembali saat ini, bagian diriku yang paling kucintai, bagian yang bertahun-tahun lalu penuh dengan gaya blak-blakan seorang gadis kecil yang jujur terhadap dirinya sendiri.
Aku ingat sekali, sehari sebelum pentas, bersama Mama aku pergi ke toko sepatu. Sejak awal, aku jatuh hati dengan sepatu hitam berpita yang terpajang manis di etalase. Tapi Mama berhasil membujukku membeli sepatu merah, dengan alasan jika aku membeli sepatu yang hitam itu, teman-temanku tak akan tahu bahwa sepatuku baru, karena di rumah, aku telah memiliki sepatu hitam dengan model yang hampir mirip.
Paginya, aku merajuk. Aku tak mau menyanyi jika aku harus memakai sepatu merah. Mama, yang saat itu kehilangan kesabaran, akhirnya berkata, "Kalau kamu tidak suka dengan sepatu yang merah itu, lempar saja ke selokan."
Tak sampai sepuluh detik berfikir, aku berlari keluar pagar, melemparkan sepatu baruku, dan dengan mantap masuk kembali kedalam rumah, membongkar rak, lalu memakai sepatu hitamku yang lama.
Akhirnya hari itu aku menyanyi dengan sepatu hitam, dan aku begitu bahagia..
Ingatan yang membungkusku tentang saat itu adalah ingatan tentang diriku sebagai kanak-kanak. Begitu blak-blakan, kuat, dan sedikit arogan. Berbeda dengan gadis defensif yang rapuh dan kebingungan, yang saat ini tengah mematung di depan komputer. Jika dulu aku pernah begitu jujur, tak bisakah aku bersikap yang sama saat ini? Tak bisakah aku kembali lagi sejenak menjadi gadis yang arogan dan 'membuang' sesuatu yang tak aku sukai dari kehidupanku?
Tapi seiring aku bertumbuh, akupun menyadari bahwa kejujuran ternyata tak sesederhana itu. Ia merupakan masalah yang problematis, yang seperti buah, memerlukan waktunya sendiri untuk menjadi masak. Kejujuran rupanya bukan sekedar imperatif moral yang bisa diterapkan pada semua orang, melainkan bentuk komunikasi yang juga membutuhkan kesiapan hati bagi siapa yang akan mendengarkannya. Kejujuran tak bisa dipaksa keluar melalui interogasi atau model pengadilan. Ia memerlukan wilayah dimana orang saling percaya. Dan diperlukan keluasan hati untuk bisa menerima setiap bentuk kejujuran itu.
Aku tak ingin membuat luka baru...
Friday, September 21, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment
silahkan dikomentari