Saturday, September 29, 2007

Mengenang Bali

Rutinitas kerja yang membosankan ini tiba-tiba saja memunculkan sebuah ide tentang mencuri waktu untuk terbang ke Bali lagi. Entah kenapa, tetapi setiapkali Yogya mulai terasa menjemukan, maka tempat pelarian terindah bagiku selalu BALI. Setiap kali terbang kesana, entah untuk yang kesekian kalinya, aku selalu saja menemukan 'hidden treasure' yang tak pernah habis. Seolah Bali adalah tempat yang selalu baru bagiku.
Aku masih ingat, ketika pertama kalinya aku pergi ke bali seorang diri. Aku berkeliaran di taman-taman dan restoran-restoran dan menikmati akhir pekan yang panjang bersama teman-teman yang tinggal di Denpasar, berjalan-jalan sambil memandangi deretan pura. Aku juga mencoba untuk terjun ke air tanpa takut dengan bermain bodyboard di sepanjang tepian kuta tiap sore. Aku merasakan kembalinya perasaan menakjubkan, kehidupan, dan vitalitas, ketika mengendarai motor melewati pagi-pagi berkabut di alun-alun Renon di akhir Agustus yang dingin, dan semakin merasakannya ketika berlari pontang-panting di wilayah pedesaan menuju Bedugul, melewati pohon-pohon dan melintasi ladang-ladang pertanian. Atau ketika bermobil menyusuri jalanan dingin dan sunyi sepanjang Kebun Raya Bali sembari mendengarkan Leon Haines Band menyanyikan ‘For You to Remember’.
Aku sudah lupa bagaimana rasanya berada sendiri di tempat terbuka merasakan angin dan hujan dan keindahan alam, dan aku bisa merasakan kehidupan menyusup kembali ke antara celah-celah tubuh dan pikiranku yang sebelumnya telah kuanggap tidur.
Peristiwa itu membekas sekali dalam ingatanku. Mungkin karena ketika itu aku baru saja mengalami bulan-bulan sulit dalam hidup, putus cinta dengan kekasih pertama (hihi..lucu ya!) dan secara tiba-tiba mengikatkan diri pada orang lain yang belum kukenal betul. Kepenatan itulah yang menyadarkanku bahwa sepertinya ketika itu aku perlu menarik nafas sejenak seorang diri, di sebuah tempat dimana aku bisa menjadi diriku seutuhnya. Hidup dengan limpahan coklat dan es krim (aku penggila conello), menulis catatan harian setiap pagi ditemani aroma pantai, pegunungan, menikmati seni dan musik, seperti berada di sebuah pulau pribadi dan intens yang memunculkan kembali kehidupan bagiku, membangunkan jiwa avonturirku yang sempat tertidur. Menikmati setiap lekuk alam, yang curam, atau menjulang..
Dan kini, ketika melihat-lihat kembali foto-foto perjalanan itu, tiba-tiba aku merasa rindu.
Rindu menikmati semburat jingga yang mempersona ketika matahari terbenam di kuta.

No comments:

Post a Comment

silahkan dikomentari