pagi yang muram.
sehabis sholat subuh tadi aku tertidur dengan lembaran kertas yang berserakan di samping tempat tidur. ketika bangun, tiupan angin menembus melalui kisi-kisi jendela yang kubiarkan sedikit terbuka. aku sempat heran. hari ini tak ada matahari...
di jalan, masih menahan sakit perut akibat tamu bulanan yang tiba-tiba datang, aku menarik nafas panjang.
aku suka sekali dengan cuaca seperti pagi ini.
sejuk...
membuatku perasaanku bertambah lembut.
oleh karena itulah aku sengaja melaju dengan kecepatan di bawah rata-rata. menikmati segala sesuatu yang bergerak di sekelilingku.
berapa lama aku tak menikmati hiruk pikuk jalan raya dengan kegembiraan seperti pagi ini?
aku sadar, selama ini aku selalu terburu. harus tiba di kantor sebelum jam 8. harus menyusun rencana untuk pekerjaan yang menunggu di meja kerja. harus menghadapi manusia-manusia sulit, dll.
tapi pagi ini, meski tahu bahwa aku sudah terlambat 3o menit, tak ada keinginan untuk meluncur dengan kecepatan 80km/jam seperti biasanya. aku hanya ingin menikmati jalan raya. hanya itu.
dan aku baru menyadari...
bahwa ketika aku bergerak lebih pelan, segala sesuatu di sekelilingku justru menawarkan keindahan yang luar biasa. aku menjadi lebih intens dalam mengamati dan merasakan.
lalu sesaat, aku berfikir...
dalam sebuah hubungan, apakah aku bisa menggunakan analogi yang sama sebagaimana aku menikmati jalan raya pagi ini?
bergerak pelan, tetapi penuh makna...
bukan gerakan yang terburu-buru seperti dulu....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment
silahkan dikomentari