Aku kembali mendengarkan Air on a G-string nya Johan Sebastian Bach siang ini. Aku sakit. Flu yang beberapa hari menghampiriku, semakin betah bersarang. Jadi, ketika pagi tadi aku bangun dan merasakan pening yang luar biasa, aku segera menelfon kepala bagian personalia, meminta izin bahwa aku tak bisa masuk kantor hari ini.
Berada di rumah pada jam-jam seperti ini tampaknya menjadi sebuah keistimewaan tersendiri.
Entah sudah berapa lama aku merindukan sebuah waktu khusus untuk menulis, membaca 'in the name of the rose'-nya Umberto Eco tanpa jeda, sembari menikmati secangkir teh manis. sesuatu yang telah menghilang dalam hari-hariku yang kini dipenuhi urusan pekerjaan.
Namun entah mengapa, siang ini, aku ingin sekali mendengarkan simfoni itu dengan versi yang lain. Jika aku selalu mendengarkannya melalui gesekan biola dari London Philarmonic Orchestra, maka kali ini aku mendengarnya melalui petikan gitar Peo Kindgren. Aku tak tau siapa Peo Kindgren itu, karena aku hanya menemukan sosoknya secara acak melalui youtube. Tapi satu hal yang membuatku terharu adalah sebuah kata yang muncul di awal waktu ketika ia memetik senar gitar itu.
‘For Marie…’
Begitulah bunyinya. Ternyata untuk perempuan itulah simfoni ini ia persembahkan.
Mendadak, naluri perempuanku berbicara. Betapa inginnya saat ini aku dihadiahi sesuatu seperti itu. Sebuah ungkapan cinta yang tulus dan sederhana. Tak perlu makan malam mewah di tepian Darling Harbour, atau jam tangan dari Paris. Hanya sebuah simfoni. Sepenggal melodi. Dari gitar hijau tua yang teronggok diam di sudut loteng, yang nyaris tak pernah tersentuh tangan siapapun. Aku menangis siang ini. Bukan karena terlampau sentimental, tapi tiba-tiba saja airmata ini meluncur tanpa mampu kubendung. Melodi itu bukan hanya menyentuh citarasa seni yang ada dalam diriku, yang senantiasa bergetar setiapkali aku mendengarkan sebuah musik yang lembut. Namun lebih dari itu. Melodi itu menghadirkan kembali sebuah pusaran yang intens akan perasaan yang coba kusembunyikan beberapa hari terakhir ini. Seperti kunci, melodi itu membuka setiap pintu yang kututup rapat, yang tak pernah dibuka oleh siapapun...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment
silahkan dikomentari